Jalan Menuju puncak Trowongan
SMA adalah masa –masa yang paling indah dengan penuh
kekompakan antara satu sama lainnya membuat kami menjadi kuat dan berkuasa,bagaimana
tidak mulai dari ketua MPK,ketua OSIS dan perangkat lainnya adalah berasal dari
jurusan kami, dari jurusan yang sangat di sukai masyarakat yaitu ILMU AGAMA
ISLAM dengan nama trennya IAI walaupun jurusan kami Agama tapi dilokal kami
lengkap ada nakal ada baik ada pintar juga ada kurang pintar tapi dengan
kekompakan dan saling membantu hal ini membuat kami semua sama tak ada yang
berbeda.
Pernah pada suatu hari kami para cowok dan cewek tak ikut
serta pergi bolos bareng bareng yaitu dengan pergi ke t4 dimana disana tempat
peninggalan belanda,kami siswa kelas tiga yang mau ikut ujian nasional maka
para guru mempersiapkannya dengan memberikan pelajaran tambahan dengan bahasa
kerennya sekolah sore tentu kami menjadi capek,jenuh dan suntuk dalam waktu
satu bulan lebih sekolah Full satu hari berturut – turut karna itulah kami
mengambil inisiatip untuk menghilangkan kejenuhan itu dengan pergi refresing,
ya seperti yang disebut di atas ke tempat peninggalan belanda dimana disana
terdapat sebuah trowongan yang digunakan untuk mengaliri air ke suatu bendungan
untuk pembangkitan listrik kerennya PLTA.
Waktu itu kami semua anak agama pergi tanpa ada yang
tertinggal kecuali cewek,tentu para pembaca bertanya tanya kenapa Cuma cowok
yang ikut cewek ngak,seolnya didalam trowongan sangat gelap dan sangat memicu
adrenalin tentu kami sebagai manusia normal, kalau sudah di tempat gelap
semuanya kreatif tanpa di kumandokan maka dari itu kami dari sekolah pendidikan
agama menjujung tinggi yang namanya karakter,alhamdulillah saya sampai hari ini
masih terjaga dengan baik.
Medan menuju ke lokasi trowongan itu tak muda,awalnya kami
harus menempuh jarak sepanjang 10 KM untuk sampai kesana itu baru sampai
daerahnya saja belum lagi untuk mencapai puncak,dengan menempuh jarak 10 KM itu
bukanlah suatu akhir tapi inilah awal untuk memulai petualangan ini,stelah kami
jalan beberapa meter kira-kira sekitar 100 M kamu dihidangkan dengan anak
tangga yang panjang sekali saking panjangnya kami tak melihat dimana
ujungnya,sesampai kami persis dibawah tangga kami semua berkumpul,melihat
teman2 saya tertawa sendiri karna ada yang mengeluh tak sanggup ke atas dan ada
juga yang sudah ngak percaya diri lagi untuk bisa ke atas tapi dengan semangat
yang tinggi kami pasti bisa.
Anak Tangga Menuju trowongan
Salah satu teman memberi motivasi “Baiklah teman2 kita adalah
suatu pemuda masa depan harus bisa menghadapi tantangan apapun itu,dalam hati
saya ( boro boro jadi pemuda masa depan sekarang aja masi siswa bolos sekolah
hahha) dengan hayalan dan betrokan dalam hati saya sampai semua omongan dan motivasinya
tadi ngak ada yang singga di kelapa ku dan saya berpikir dalam hati “ya
sudahlah selagi orang2 mampu maka saya juga mampu karna kita sama-sama manusia
biasa hehehe”mulailah kami mendaki anak tangga satu persatu singkat cerita
sampai anak tangga terkhir saya kira inilah akhirnya ternyata ini baru sampai
mendungan,jarak menuju puncak trowongan kata salah satu temanku ada sekitar 1
KM lebih dengan menempuh medan yang sangat bahaya,lewat di pucuk pucuk pohon
dengan memanfaatkan aliran trowongan dari lereng bukit yang menhubungkan bukit
satu ke bukit satunya lagi ,dengan singkat cerita lagi dengan gurauwan kami
besama tak terasa kami sampai di puncak trowongan dimana disana terdapat sebuah
sungai yang sangat alami dan tak ternodai sedikitpun oleh ulah tangan manusia,air
masih jerni dan harum,sampai disana kami makan,memang kebutulan kami membawa
nasi bungkus dan semua kecapaan dan kelitihan terbayar sudah dengan indahnya
pemandangan alam serta kicauan burung yang sangat memukau dan menentramkan jiwa.
Sehabis makan istirahat sebentar,mungkin untuk pulang kamu
ngak akan kecapeaan lagi karna untuk menuju kebawah kami memanfaatkan masuk
trowongan dan hanyut bersama arus air yang sangat deras saking derasnya tak ada
yang bisa menahan air trsebut,kami tak memikirkan ada apa didalam trowongan apa
tantangan dan bahayanya memang kami tak ingain tau hal itu,mengenai trowongan
yaitu aliaran air yang di buat dibawah tanah dimana didalam tak ada cahaya
sedikitpun,kalau seandainya ada bahaya seperti binatang buas kami tak akan tau
karna didalam trowongan tak ada yang bisa di lihat hanya suara yang menandakan
kami bahwa kami masih ada.
Sebelum kami masuk trowongan teman kami yang tadi kembali
memberi arahan dan aturan agar kami selamat yaitu tidak boleh didalam trowongan
hanya diam harus bersuara hanya itu yang bisa memastikan bahwa kita masih ada
dan besama.
Didalam trowongan kami agak sedikit cemas karna tak ada yang
mau dilihat,saya hanya diam beberapa sa’at dengan kembali menghayal betapa
menyeramkan didalam trowongan ini,apa lagi di alam kubur,dalam lamunanku semua
orang pada kuatir ekri mana ekri mana ,akhirnya aku mengeluarkan suara “aku
disini aman dan terkendali”salah satu teman angkat bicara baiklah teman2 kita
tidak bisa melihat antara satu sama lainnya maka dari itu tak ada lagi kejadian
ini terulang lagi semua kita harus saling bicara okeey.
Saya memang orang sangat pendiam dan tak banyak bicara tapi
pada sa’at itu teman2ku sangat kuatir sekali,mereka marah sekali pada saya tapi
saya menganggap semua itu untuk kebaikanku dan kita bersama,jeda bebarap meter
didalam trowongan dengan dihanyutkan dengan air yang begitu derasnya kami hanya
dapat mendengar suara,mulai dari suara air dan suara kelelawar yang sangat
terkejut yang dikunjungi oleh tamu memang tak diundang,terakhir suara kami,satu
hal yang sangat kami cemaskan adalah Ular karna ularlah yang sangat suka medan
seperti ini sampai pada akhirnya kami tibah di bendungan pada tempat kami
semula dan kami selamat hanya ada salah satu yang terluka,saya juga terluka
yaitu sepatu saya luka – luka sayang sekali padahal baru beli ckckc.
Sesampai di bendungan kami isrtirahat dan salah satu teman
mendatangiku dan minta ma’af atas kejadian tadi dan saya juga minta ma’af karna
telah membuat semua cemas,esok paginya disekolah kami dihukum bejemur di
lapangan upacara sambil hormat bendera selama 3 jam dari pagi sampai orang
istirahat.kalau tidak berjemur maka salah satu guru kami tak akan mema’afkannya.
Itulah kenangan yang tak terlupakan. Ma’af tidak menceritakan secara ditail kalau
di ceritakan seperti apa dalam trowongan mungkin sangat panjang sekali masalah
terbesarnya adalah saya capek ngetik hehehehe...kalau ada waktu lain kali saya
ceritakan bagaimana didialam troewongan dan bagaimana tantangan menuju puncak
trowongan.


Belum ada tanggapan untuk "CERITA DAN KENANGAN DI TROWONGAN PLTA SALIDO KECIL"
Post a Comment